Amenore dapat terjadi karena kelainan pada aksis hipotalamus-pituitari-ovarium, kelainan anatomi saluran genital, atau penyebab fungsional.
Hipotalamus
Craniopharyngioma (tumor otak dekat kelenjar pituitari)
Sindrom Kallmann (defisiensi gonadotropin, yang merupakan hormon yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan fungsi organ reproduksi)
Kekurangan nutrisi
Berat badan rendah atau keterlambatan pertumbuhan
Hipofisis
Prolaktinemia (kadar prolaktin dalam darah tinggi, hormon yang menstimulasi sekresi susu dari payudara selama menyusui) - kemungkinan disebabkan oleh prolaktinoma (tumor kelenjar pituitari yang mengeluarkan hormon prolaktin)
Gangguan yang berkaitan dengan tumor pituitari lainnya (misalnya, sindrom Cushing, akromegali, atau hormon perangsang tiroid)
Nekrosis hipofisis pascapartum (kematian sel pituitari setelah seorang wanita melahirkan bayi)
Hypophysitis autoimun (sel-sel kelenjar pituitari dihancurkan oleh sistem pertahanan tubuh sendiri)
Craniopharyngioma (tumor di dalam kelenjar pituitari)
Radiasi hipofisis
Sarkoidosis (penyakit umum yang dapat mempengaruhi hipofisis).
Ovarium
Anovulasi (kurangnya pelepasan telur)
Hiperandrogenemia (kadar hormon laki-laki dalam darah tinggi)
Sindrom ovarium polikistik (gangguan hormonal yang mempengaruhi wanita usia reproduksi)
Kegagalan ovarium prematur
Turner syndrome (kelainan genetik yang ditandai oleh ovarium yang kurang berkembang, kegagalan menstruasi, dan perawakan pendek)
Disgenesis gonad murni (perkembangan indung telur yang cacat)
Oophoritis autoimun (sel-sel indung telur yang dihancurkan oleh sistem pertahanan tubuh)
Fragile X prematur
Radiasi atau kemoterapi
Galaktosemia (kelainan bawaan dimana galaktosa, sejenis gula, terakumulasi dalam darah)
Kelainan anatomi saluran genital
Adhesi intrauterin
Selaput dara imperforata (selaput dara di mana tidak ada pembukaan, membran sepenuhnya menutup vagina)
Transversal vagina septum (dinding pemisah atau selaput di vagina)
Aplasia (tidak ada organ atau jaringan) vagina, serviks, atau uterus
Fungsional
Anorexia / bulimia
Penyakit kronis (misalnya, tuberkulosis)
Berat badan berlebih atau penurunan berat badan
Malnutrisi
Depresi atau gangguan kejiwaan lainnya
Penyalahgunaan narkoba rekreasi
Penggunaan obat psikotropika (obat yang diresepkan untuk menstabilkan atau meningkatkan suasana hati, status mental, atau perilaku)
Stres yang berlebihan
Latihan yang berlebihan
Penindasan siklus dengan pil kontrasepsi hormonal sistemik (pil KB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar